Berpura-puralah, Ayah…

AyahAyah, tentu sering melihat anak-anak tertawa saat menonton film kartun di televisi. Apa yang membuat mereka tertawa? Tentu saja aksi kocak tokoh dalam film tersebut, yang menurut kita para orang dewasa lebih sering dianggap konyol, berlebihan atau “cuma akting” “hanya pura-pura”.

Apapun itu, nyatanya tokoh-tokoh dalam film itu berhasil membuat anak-anak tertawa, bahagia. Padahal tokoh itu hanya fiksi, tidak nyata, rekayasa, dan mungkin tidak ada dalam dunia anak-anak yang sesungguhnya. Mereka bisa berwujud kucing dan tikus yang bermusuhan, bebek yang bisa berbicara, hantu yang lucu, si kembar dari negeri jiran atau tokoh heroik yang kerap jadi idola anak-anak kita.

Sebagai Ayah, kadang kita perlu berakting, perlu berpura-pura, bertingkah sedikit konyol, tampil lucu, atau apa saja yang bisa membuat anak-anak tertawa, senang, bahagia. Merasa bahagia tak selalu dengan diwarnai dengan gelak tawa, tetapi juga ketika tingkahnya diperhatikan, melucunya ada yang menertawai, nyerocos-nya ada yang mendengarkan. Bisa juga dengan ikut dalam permainan yang sedang dilakoninya.

Anak-anak senang menceritakan pengalaman seru yang dialaminya, atau hal yang menurutnya orang lain harus tahu, termasuk kesedihan, orang tualah yang sering jadi tujuan utamanya. Nah, kadang satu cerita diulang-ulang, pagi hari sudah diceritakan, siang harinya ia cerita lagi, begitu juga malam hari seolah ia lupa bahwa Ayahnya sudah berkali-kali mendengarnya. Berpura-puralah kita belum mendengarnya, dan berikan ekspresi yang diinginkannya.

Berpura-puralah belum tahu informasi yang baginya baru, berpura-puralah kaget mendengar cerita serunya, pura-puralah terharu dengar kisah sedihnya, tertawalah sama dengan tertawa saat pertama kali mendengar cerita yang sama. Jangan bersikap datar hanya karena kita sudah tahu ceritanya. Apalagi berucap “Ayah sudah tau…”

Temani anak bermain, mobil-mobilan atau bermain apa saja yang disukai mereka. Masuki dunianya, berpura-puralah kita menjadi anak seusianya. Menirukan suara hewan seperti anak-anak menyuarakannya, bermain mobil-mobilan mengikuti caranya bermain, bukan dengan cara orang dewasa bermain, berpura-pura jatuh saat bermain bola, atau gerakan-gerakan lucu agar ia tertawa. Biarkan saja orang dewasa lain melihat kita konyol, tetapi dimata anak kita adalah Ayah yang menyenangkan.

Saat mandi bersama, banyak hal yang bisa kita jadikan sarana menciptakan kebahagiaan. Berpura-pura salah pakai pasta gigi, ketika pasta gigi anak kita gunakan untuk Ayah, berikan ekspresi kaget karena salah pasta itu, lihatlah ia tertawa. Pura-puralah selesai mandi dan hendak keluar kamar mandi, padahal rambut masih penuh busa sampo, apa yang terjadi? Ia akan kembali tertawa. Jangan pernah malu ditertawakan anak sendiri.

Para Ayah selalu pandai berpura-pura kalah dalam permainan berkelahi, sebab ia rela memainkan peran tokoh jahat sesuai arahan anak-anak. Siapa tokoh jagoannya, tentu sang anak. Begitu pula dalam permainan olahraga, lomba lari atau bermain bola. Sehebat apapun Ayah dalam bermain bola, tentu akan berpura-pura kalah jika melawan anak. Akui kehebatannya, sikap pura-pura ini menjadi sangat penting untuk mengangkat mental anak, bahwa mereka bisa, mereka hebat, mereka merasa yakin bisa bersaing dengan siapapun, bahkan dengan orang yang jauh lebih besar darinya.

Sesekali Ayah perlu berkata “Ayah sudah kenyang” ketika anak-anak sedang menikmati makanan kesukaannya, meskipun ingin pula kita menikmatinya. Biarkan ia selesai makan sampai puas, bersyukur bila masih tersisa untuk Ayah, jika tidak, tetap bersyukur.

Berpura-puralah tidak lelah, meskipun Ayah cukup lelah sepulang kerja, saat anak mengajak bermain. Berpura-puralah merasa kebal saat anak-anak berkelakar dengan memukul-mukul, perlu juga ia merasa bangga bahwa Ayahnya sehebat tokoh film yang sering ditontonnya. Sesekali Ayah perlu berpura-pura mengerang kesakitan saat dipukul, agar ia tahu sehebat-hebatnya orang pasti punya kelemahan.

Berpura-puralah tak sibuk sesibuk apapun Ayah, karena waktu seorang Ayah benar-benar tak sibuk seringkali hanya ada saat mereka sudah beranjak dewasa, saat mereka tak lagi membutuhkan kepura-puraan seorang Ayah.

Berakting lah, bertingkah konyol lah, berbuat lah yang lucu, bersandiwaralah Ayah. Tak perlu sungkan atau malu di depan anak. Berpura-puralah dengan hati yang senang saat membersamai anak-anak, hingga kita tak sadar begitu cepat mereka tumbuh.

Saat mereka merasa tak menemukan contoh nyata dari tokoh-tokoh lucu, hebat, konyol, pahlawan, penolong, jagoan seperti di film-film, sosok Ayah lah wujud nyata dari semua yang ada di film. Tidak semua mungkin, tetapi ada sebagian yang ia dapatkan. Mungkin juga sebagiannya justru bukan kepura-puraan, melainkan sosok Ayah yang sesungguhnya. Tapi saat itu, tak penting bagi mereka membedakan apakah Ayahnya berpura-pura atau sungguh-sungguh.

Jika berpura-pura adalah bakat hebat seorang aktor, maka seorang Ayah adalah aktor terhebat – Bayu Gawtama

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *