Malam tadi, di sebuah pusat perbelanjaan di Depok melihat sepasang kekasih di eskalator. Keduanya saling menggenggam erat jemari pasangannya, sempurna saya bilang. Semoga saja dugaan saya benar bahwa keduanya sepasang suami isteri, saya abaikan sebentar prasangka mereka sedang berpacaran. Karena saya lebih tertarik pada sesuatu yang saya sebut “kesempurnaan”.
Sang perempuan, maaf, bertubuh gemuk dan pendek, lebih pendek dari kebanyakan orang Indonesia pada umumnya. Lelakinya, porsi tubuh normal namun, maaf, berbibir sumbing. Bagi sebagian orang mungkin keduanya dipandang “kurang normal” atau “nggak sempurna” lantaran kekurangan yang ada pada mereka secara fisik. Meski dalam pandangan saya, sempurnanya seorang manusia justru karena dia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Jika ada yang tidak memiliki kekurangan, mungkin bukan manusia.
Pada hakikatnya setiap manusia memang tak sempurna, selalu punya kekurangan dibalik kelebihan yang ada. Biasanya, setiap orang juga berupaya menyembunyikan kekurangannya, baik fisik maupun non fisik. Satu hal yang kerap jadi ketakutan seseorang adalah tidak bisa diterima oleh orang lain lantaran kekurangan yang dimilikinya.
Tetapi cinta membuat semua berbeda, merasa diterima meski kekurangan, merasa dipeluk walau dunia menghakimi, merasa dikecup meski kerap dipandang berbeda. Bukan cinta bila hanya menerima kelebihan, tak disebut cinta bila menolak kekurangan.
Cinta hadir dari satu rasa yang tak ada menjadi ada, dari satu celah tak terisi menjadi penuh bergelora, dari satu ruang hampa untuk dihangatkan, dari sisi ganjil yang perlu digenapi. Cinta datang dari kekurangan untuk dilengkapi. Cinta datang dari ketaksempurnaan untuk menyempurnakan. Menerima kekurangan, adalah cara hebat untuk memeluk cinta.
Keduanya, yang masih terus menggenggam erat jemari pasangannya malam tadi, memberi saya satu energi kehidupan. Cinta, membuat seseorang merasa sempurna.
@bayugawtama



