Usai salam shalat jamaah Isya di masjid, Imam masjid bertanya kepada jamaah, “Nasir kemana? Sudah dua kali waktu sholat tidak terlihat…”
Jamaah yang ditanya satu persatu hanya menggeleng. Lalu Imam mengajak para jamaah beranjak mengunjungi rumah Nasir. Nasir, salah satu jamaah masjid itu, rupanya sedang sakit, pantas saja sejak maghrib ia tak hadir berjamaah.
Ini kisah nyata, sayangnya tidak terjadi di tahun ini. Ini kisah dari Ayah saya, baru sore tadi ia bercerita saat kami ngobrol akrab dalam suasana lebaran di rumahnya.
Ini cerita di masjid Al Karim di tahun 1950an, masjid yang berdiri persis di samping rumah keluarga besar Abdul Karim, kakek saya, di daerah Jati Pulo, Tomang, Jakarta Barat.
Sang imam masjid yang dimaksud adalah salah satu kakek saya. Ia bukan ustadz, bukan kyai, bukan saudagar, hanya imam masjid biasa yang hafalan qurannya pun beberapa surat saja.
Namun kisah dari Ayah sore tadi terasa begitu dalam, penuh makna tentang peran masjid, sholat jamaah, persaudaraan dan tanggung jawab sosial masjid.
Nasir, juga hanya jamaah biasa, yang memang kebetulan rajin ke masjid. Hanya butuh dua waktu sholat saja, sang Imam langsung menanyakan ketidakhadirannya. Rupanya ia sakit, dan ramailah para jamaah berkunjung. Subuhnya, Nasir sudah ikut berjamaah kembali, boleh jadi ia sembuh setelah dikunjungi para sahabatnya.
Lalu Ayah berkisah tentang pedagang makanan di samping masjid. Satu hari, sang Imam melihat etalase dagang ibu penjual makanan yang terbuat dari kayu, dengan plastik yang sudah robek. Ia pun mengambil uang kas masjid - setelah berembuk dengan jamaah lainnya - untuk memperbaiki etalase itu. Oya, ada sejumlah uang juga dari kas masjid yang sebenarnya tak seberapa itu, untuk membeli panci baru bagi pedagang itu, lantaran panci yang dipakai berdagang sudah banyak tambalan, hitam gosong pula hampir di seluruh bagian luarnya.
Tak hanya pedagang itu, kadang ada musafir kelaparan, bila datang dan singgah di masjid itu pun akan mudah mengganjal perutnya. Lagi-lagi kas masjid yang memang tak seberapa itu menjadi pengganjalnya. Itu musafir, orang yang tak dikenal, apalagi warga sekitar. Begitulah peran masjid dimainkan, indahnya.
Lalu diskusi kami menyoal masjid-masjid di perkotaan saat ini. Setiap jumat kadang diumumkan kas masjid yang jumlahnya bisa ratusan juta. Meski diantara jamaah jumatan itu, mungkin ada yang tengah menahan lapar, ada yang kehabisan bekal dan ongkos, ada yang baru saja kehilangan pekerjaan, ada yang sedang terjerat rentenir, ada yang gundah isterinya mau melahirkan tapi tak punya uang, ada yang anaknya putus sekolah, atau mereka yang sekadar kehausan.
InsyaAllah dan semoga masih banyak masjid dengan kepedulian sosial yang tinggi. Yang tak perlu menunggu moment Ramadhan atau jelang lebaran. Amiin - @bayugawtama



