Mendengar kata “Saweran” belakangan ini orang langsung terbayang dangdut, karena setiap kali ada aktifitas panggung dangdut kerap ada aksi ‘nyawer’ yang dilakukan para penonton yang ingin ikut berjoget di panggung bersama penyanyinya yang semok bin aduhai.
Padahal saweran itu sesuatu yang positif dan berlaku sebagai bagian dari budaya tolong menolong di masyarakat kita. Sebutlah pembangunan fasilitas umum seperti masjid, jembatan atau sekolah di desa-desa, masyarakat kita terbiasa melakukan saweran, baik berupa uang maupun bahan-bahan bangunan yang diperlukan. Gotong royong pun bisa terlaksana karena setiap individu memberikan sumbangsihnya, selain tenaga, uang ataupun para ibu yang menyediakan kopi atau makanan bagi kaum lelaki yang bekerja.
Saya teringat di masa awal-awal Komunitas 1001buku pada tahun 2003-2004, para relawan bekerja memilah ribuan buku dan menjelang siang, seorang relawan berkeliling sambil teriak, “bantingan…”. Terkumpullah sejumlah uang hasil ‘bantingan’ dari para relawan yang memang saat itu punya kelebihan untuk membeli makan siang dan camilan bagi semua relawan. Atau kadang, sebelum acara berlangsung, koordinator acara terlebih dulu membuat pengumuman di mailing list, siapa mau nyumbang ini dan itu untuk dimakan bersama saat acara.
‘Bantingan’ ala Komunintas 1001buku ini pun bentuk saweran dalam dunia sosial kemanusiaan. Yang lebih besar lagi, model koin peduli pada beberapa kasus pun terlihat sangat efektif sebagai bentuk gerakan kepedulian masyarakat. Meskipun pada prakteknya ada pula yang kecewa lantaran persoalan transparansi, seperti hasil dana yang terkumpul untuk pembebasan seorang TKI beberapa tahun silam. Bagus, karena berderma pun harus tetap kritis dan sikap kritis tak sedikitpun mengurangi nilai derma itu sendiri.
Di layar tv atau media cetak, juga di halaman media sosial, hampir setiap hari kita disuguhi informasi terkait masalah-masalah sosial dan kemanusiaan dari berbagai daerah. Mulai dari masalah pendidikan, kesehatan, lingkungan, bencana alam, atau masalah-masalah lainnya yang menggugah rasa kemanusiaan. Sebagian berujar, “kemana itu pemerintah?”, “kepala daerahnya ngapain aja”. Sebagian lain bahkan tak peduli, “bukan urusan saya”.
Cukup. Ini Bangsa besar, tidak adalah masalah yang tak bisa kita selesaikan. Masyarakat Indonesia itu hebat dan mampu berdiri di atas kaki sendiri untuk sebesar apapun masalah yang dihadapi. Jembatan putus bisa kita bangun kembali atas swadaya masyarakat, masjid yang rusak pun cukup dibenahi dengan turun tangan masyarakat sekitar, orang sakit bisa ditolong oleh para tetangganya yang peduli, anak putus sekolah bisa kembali ke sekolah lantaran banyak yang membantu, lingkungan yang kotor dan menyebabkan wabah kembali bersih oleh tangan-tangan peduli, dan yang pasti belum pernah ada keranda jenazah jalan sendiri ke liang kubur.
Bagaimana dengan biaya untuk semua masalah-masalah sosial? Kembalikan semangat gotong royong kita. Tak semua bisa turun tangan ke lapangan untuk membantu dengan tenaga, tetapi bisa mengulurkan bantuan berupa donasi. Tak harus banyak, karena tak semua mampu memberi banyak. “bantu sedikit boleh?” ini pertanyaan yang sering kita dengar. Tentu saja boleh, meski sedikit namun jika semua aktif berbagi, maka keperluan sebesar apapun akan tercukupi.
Saweran Sosial ini bertujuan untuk menghidupkan kembali gerakan dan partisipasi masyarakat atas setiap masalah yang ada di sekitar kita, sehingga sebesar apapun masalahnya bisa kita atasi bersama. Jadi, berhenti menyalahkan keadaan dan orang lain, kita bisa ambil bagian dan turun tangan atas setiap masalah yang kita hadapi.
Saweran sosial merupakan gerakan kemandirian masyarakat, sebuah keyakinan atas kemampuan menyelesaikan setiap masalah di masyarakat, juga bangsa ini. Partisipasi kita hari ini adalah solusi bagi permasalahan saudara-saudara kita yang lain, dan invetasi sosial kita di saat kita benar-benar memerlukan pertolongan orang lain. (Gaw)
Tunggu, segera diluncurkan www.saweransosial.com


