Bencana, apapun bentuknya selalu menyisakan duka yang panjang. Bencana boleh saja sesaat menyapa, namun hentakannya menimbulkan kerugian yang tak sedikit. Mahal harga yang harus dibayar oleh semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Bukan hanya materi yang meski setinggi apapun biayanya tetap bisa dihitung, namun juga kerugian non materi yang benar-benar tak bisa dihitung.
Rumah yang rusak, bangunan sekolah dan rumah ibadah yang hancur, tempat-tempat perniagaan serta barang perniagaan yang tak luput dari terjangan bencana, adalah sederet harga mahal yang harus ditanggung bersama. Lebih dari itu, ada harapan yang terkoyak, ada rencana yang tertunda bahkan gagal, ada semangat yang runtuh, ada pula masa depan yang rasanya seakan terhapus.
Inilah saatnya bersatu, antara pemerintah, sektor bisnis dan masyarakat dari berbagai elemen. Koordinasi, konsolidasi dan sinergi, penting untuk bisa diwujudkan untuk bahu membahu menyelesaikan penanganan bencana, tak sekadar di fase emergency, melainkan juga di fase pemulihan, sampai pembenahan semua sektor termasuk edukasi kebencanaan yang semestinya semakin digencarkan oleh siapapun, berbagai pihak yang lebih memahami masalah kebencanaan.
Bencana memang sebentar saja, namun dampaknya berkepanjangan. Untuk itu, perlu diatur ritme kepedulian kita, baik sebagai donatur maupun relawan. Tidak semua harus terjun di fase darurat (emergency), ada pula yang harus disiapkan tenaga, pikiran –dan dana- untuk fase pemulihan yang nyata-nyata lebih besar daripada yang harus dikeluarkan pada fase darurat.
Tidak perlu takut “kehilangan” moment hanya karena tidak turun tangan pada fase darurat, karena relawan dan dermawan senantiasa dibutuhkan di semua fase. Mulai dari edukasi untuk mitigasi bencana, fase darurat maupun di fase pemulihan. Betul, setiap kita punya naluri ingin cepat membantu saudara-saudara yang kesulitan, namun sekali lagi, momen membantu tak hanya pada fase darurat. Coba lihat nanti, begitu fase darurat selesai, biasanya para korban bencana akan tinggal sendirian, sepi oleh dermawan, sepi pula oleh aktifitas relawan.
Ada peran-peran yang seakan paling heroik dari seorang relawan, ketika mereka berhasil mengevakuasi korban bencana, ditambah lagi sorotan kamera media yang tak henti memberitakan aksi-aksi evakuasi pada fase darurat. Padahal, peran lain tak kalah heroiknya, bahkan sangat mengesankan. Para relawan di dapur umum, relawan kesehatan, relawan yang berbagi keceriaan di tenda-tenda pengungsian, relawan yang mencari dan mengumpulkan data, serta yang tak kalah pentingnya relawan pendamping masyarakat, yang menjaga semangat dan harapan para korban bencana untuk tetap menyala, tak kehilangan harapan.
Pemulihan fisik paska bencana bisa saja berlangsung enam bulan sampai dua tahun, namun mungkin perlu waktu lebih lama dari itu untuk pemulihan psikis para korban bencana. Hadirnya para relawan-relawan pengusung senyum dan harapan di tengah-tengah warga korban bencana, melahirkan semangat dan keyakinan baru, bahwa mereka tak sendiri menjalani hari-hari paska bencana.
Tak sebentar memang, tak seperti bencananya itu sendiri yang sangat sebentar. Pendampingan korban bencana oleh para relawan tak sebentar, karena pemulihan trauma paska bencana pasti membutuhkan waktu. Relawan-relawan di fase pemulihan ini, memang tak disorot media, tak nampak muka di fase darurat, namun peran mereka sungguh pula mempesona. Tak harus dipuji, karena terbiasa tanpa pujian, namun jejak mereka sampai ke hati, terekam di jiwa. (gaw)


