Warteg dan Strategi Finansial

20150116_123952Sebagian orang Indonesia berpenghasilan pas-pasan. Pas lagi banyak uang makan di restoran, pas lagi nggak ada uang, puasa. Pas habis gajian bisa traktir makan teman-teman, pas habis bulan giliran minta dibayarin teman. Intinya selalu pas!

Buat mereka yang berkantong tebal, tentu bukan masalah mau makan dimana, makan apa, atau makan (sama) siapa. Namun bagi si kantong pas-pasan ini, tentu harus punya strategi khusus untuk mengatur keuangannya. Makan dimana, makan apa tentu saja harus pakai strategi.

Ketika baru terima transferan gaji, melengganglah sambil bersiul-siul ke restoran fastfood terkenal, tanpa berpikir lagi segala menu dicoba. Kenyang lalu bayar. Serasa jadi orang paling kaya, walau hanya beberapa hari.

Masuk minggu kedua, beda strategi. Warung Padang mungkin jadi pilihan. Masih cukup sanggup makan dengan ayam bakar atau rendang, ya minimal telur balado plus tambah nasi sepiring kecil.

Minggu ketiga dan sampai akhir bulan, strategi pengetatan ikat pinggang dimainkan. Warteg jadi primadona. Di warteg, strategi finansial lebih berperan. Kalau uang cukup, makan ayam goreng, ikan bandeng masih boleh. Begitu dompet menipis, telur dadar pakai sayur, ditambah gorengan dua.

Esok harinya masih ke warteg yang sama, kali ini dengan tingkat ketipisan yang lebih memprihatinkan. Sayur tahu dan gorengan jadi andalan, ini bagian dari strategi finansial. Di minggu terakhir, beruntung bagi pelanggan tetap yang cukup akrab dengan pemilik warteg. Sebab di beberapa warteg masih bisa ngutang alias bayar habis bulan. Ya tergantung situasi hati si pemilik warteg. Kalau ditolak, puasa adalah jalan satu-satunya. (gaw)

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *