The Great Wall, sebuah film kolosal yang mengambil setting lokasi di tembok besar Cina, berkisah tentang serbuan jutaan makhluk (Tao Tei) terhadap tembok besar yang menjadi benteng pertahanan manusia, yang mengancam kehidupan manusia di seluruh dunia.
Perlu waktu 60 tahun untuk mempersiapkan datangnya serangan tersebut, dengan puluhan ribu pasukan yang terlatih dalam barisan dan satuan keahlian khusus.
Film ini dibintangi oleh Matt Dammon yang beradu akting dengan aktris cantik Hongkong, Jing Tian dan aktor senior Andy Lau. Jing, berperan sebagai Komandan Lin, sedangkan Andy Lau sebagai Wang, ahli strategi perang dari pasukan Orde Tanpa Nama (the nameless order).
William (Matt) bersama Tovar, tentara dari barat yang sebenarnya tengah mencari bubuk hitam sebagai senjata, justru terjebak dalam peperangan pasukan orde tanpa nama pimpinan Komandan Lin, menahan serangan Tao Tei.
Tak sekadar hiburan. Ternyata film ini memberi banyak pelajaran yang bermakna tentang organisasi, visi, kepemimpinan, manajemen, kaderisasi, strategi, team work, pengorbanan juga persahabatan.
Beberapa scene menarik yang memberi pelajaran berharga dari film ini antara lain, ketika William dan keempat anggotnya dikejar pasukan bukit, ia meminta Najid melepas kuda-kuda bawaannya, untuk mengecoh lawan.
Banyak pelajaran penting lainnya tergambar dalam berbagai adegan film ini. Tentang organisasi dan team work misalnya, pasukan yang disiapkan dan diatur sedemikian rupa dalam barisan yang rapih. Pasukan berwarna hitam sebagai infanteri, para pemanah berbaju merah, dan pasukan tali berwarna biru.
Kerjasama antar pasukan terlihat sangat rapih dan sistematis. Xin Ren (keyakinan, saling percaya) adalah dasar dari sistem dan teamwork ini. Xin Ren juga yang menjadi dasar para pasukan ini bergerak untuk meraih kemenangan. Keyakinan akan kemenangan, keyakinan akan tujuan atau visi bersama.
Perlu waktu 60 tahun untuk mempersiapkan pasukan dari generasi ke generasi sampai mereka benar-benar kuat, cerdas, terampil dan penuh pengorbanan hingga saat datangnya serangan (tantangan). Ini soal visi, mimpi. Setiap organisasi punya visi, meski pun para pendiri (founder) sepenuhnya menyadari bahwa mungkin visi (kemenangan) tidak diraih di masanya, mungkin akan tercapai pada generasi berikutnya. Tak masalah, kapanpun waktunya kemenangan itu tiba, pondasinya sudah dibangun kuat oleh para founder.
Kita tak sepenuhnya tepat menghitung besarnya tantangan yang akan kita hadapi, atau dihadapi oleh generasi berikutnya. Yang penting kita lakukan adalah mempersiapkan generasi yang kuat, tangguh dan cerdas guna mengemban estafet kepemimpinan untuk mewujudkan visi bersama.
Tentang kepemimpinan pun tak ketinggalan disentuh, para pasukan bergerak dalam satu komando. Ada adegan ketika sang Jenderal meninggal, maka ia menunjuk Komandan Lin untuk memimpin pasukan. Menariknya, Lin adalah seorang perempuan. Dalam kepemimpinan yang baik, yang terbaik dan paling siap lah yang akan dipilih menjadi pemimpin.
Kadang, akan ada martir (pengorbanan) untuk mempertahankan lembaga/organisasi. Setiap individu punya kesempatan yang sama untuk berkorban demi kepentingan organisasi mencapai tujuannya.
Sebagai ingatan, yang kuat, cerdas, tangguh dan terampil akan tetap berada di barisan depan, sementara yang lalai, lengah, lamban dan tak belajar atau bersiap, akan tersingkir ke bagian belakang.
Segala tantangan, seberapapun kuat nya pasti punya titik lemah untuk dilumpuhkan. Kecerdasan dan strategi diperlukan untuk menaklukannya.
Ending yang menarik dari film ini, tentang persahabatan. Sahabat (baca : tim) jauh lebih berharga dari harta kekayaan.
Catatan film, The Great Wall ini saya persembahkan untuk The Great Team di Sekolah Relawan. Saya bangga berada dalam satu barisan dengan Anda semua. @bayugawtama


