“Mendekatlah pada sesuatu yang kokoh. Berlindunglah padanya …” Ray, San Andreas.
San Andreas, ini film yang saya tunggu-tunggu sejak pertama kali lihat trailer-nya sekitar satu bulan lalu. Must Watch! Kalau pakai bahasa iklan, bukan karena film Hollywood ini menyajikan aksi-aksi keren yang nampak di trailer-nya, melainkan tema film ini terasa sangat dekat dengan kehidupan saya selama lebih dari sepuluh tahun terakhir, yakni tentang gempa, tsunami, kerelawanan, aksi kemanusiaan dan serta aksi penyelamatan.
Atas pengalaman lebih dari sepuluh tahun bergelut di dunia kemanusiaan, saya memberi apresiasi penuh untuk film San Andreas ini, sebab film ini selain menggambarkan tentang dahsyatnya gempa dan tsunami, juga memberi banyak pelajaran, khususnya bagi para penyelamat (rescuer) terkait aksi penyelamatan, dan umumnya bagi masyarakat secara lebih luas agar lebih paham tentang gempa dan tsunami serta cara menghadapinya.
Bolehlah saya menyarankan agar para rescuer (tim penyelamat) yang terbiasa beraksi di berbagai lokasi bencana, maupun para relawan yang hendak menjadi tim rescue, menonton film ini. Tonton, nanti kita diskusikan bersama.
San Andreas, berkisah tentang gempa besar berkekuatan 9.6 SR yang terjadi di San Fransisco akibat pergerakan lempeng dengan patahan San Andreas sebagai episentrumnya. Bisa dibayangkan kehancuran yang diakibatkan oleh gempa dengan kekuatan sebesar itu, tentu kita masih ingat beberapa gempa yang menimpa daerah-daerah di Indonesia, seperti Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006) yang ‘hanya’ 6.5 SR, atau sebelumnya gempa dan tsunami Aceh (2004), Gempa dan tsunami Pangandaran (2006), gempa di Selatan Jawa Barat (2009), Sumbar (2009), atau yang paling terakhir di Tanah Gayo, Aceh (2013). Korban jiwa mencapai ratusan ribu jiwa, kehancuran pun tak terbilang. Saya tak sanggup membayangkan jika 9.6 SR yang mengguncang tanah air.
Baru saja mulai, film ini sudah menyuguhi pelajaran berharga bagi tim rescue. Ray (diperankan Dwayne Jhonson) bersama timnya hendak menyelamatkan Natalie yang bersama mobilnya masuk ke dalam jurang sempit. “Saya hanya butuh waktu 3 menit!” ujar salah seorang rescuer kepada reporter yang meliput aksinya. Ternyata, penyelamatan tak berjalan sesuai rencana, tangan si rescuer terjepit dan sulit melakukan aksinya. Ray, cepat mengambil keputusan untuk turun, atau mereka semua akan jatuh dan menjadi korban. Pelajaran pentingnya adalah, jangan takabur, meski sangat berpengalaman, tetap fokus dan rendah hati.
Beberapa cuplikan menarik dari film ini yang tak luput dari perhatian saya antara lain;
Para peneliti gempa, yang dipimpin DR. Lawrance yang melakukan penelitian terhadap gempa dan prediksi kejadiannya di Caltech. Selama ini gempa memang disebut tidak bisa diprediksi kejadiannya, meski hanya sebuah film, saya boleh berharap bahwa penelitian ini benar adanya, bahwa suatu hari, gempa benar-benar bisa diprediksi. Yang menarik juga terkait para peneliti ini, selama ini para peneliti dan juga hasil penelitiannya, kerap tidak dianggap penting. Itu tergambar jelas di film ini, walau pada akhirnya para peneliti inilah yang dianggap sebagai pahlawan karena mampu memberi instruksi evakuasi di saat-saat yang genting. Pesan moralnya, percayalah kepada orang-orang yang lebih paham.
Pengorbanan. Kim, rekan sejawat DR. Lawrance, bisa saja menyelamatkan diri saat bendungan Hoover runtuh. Namun ia melihat anak kecil yang menjerit ketakutan, menolongnya dan berlari ke tempat aman. Sayangnya, Kim harus menjadi korban runtuhnya jembatan setelah beberapa detik sebelumnya melempar gadis kecil itu ke rengkuhan DR. Lawrance.
Cara menghadapi gempa. Para peneliti di gedung Caltech langsung masuk ke kolong meja untuk berlindung, sedangkan kebanyakan orang di kota, di berbagai gedung dan jalanan, panik berhamburan, berlarian dan tentunya menjadi korban. Pentingnya bagi para relawan untuk terus melakukan edukasi bencana bagi masyarakat secara umum, mengingat hampir seluruh wilayah di Indonesia senantiasa diintai gempa, juga bencana lainnya.
Pelajaran tentang bencana, menjadi bekal berharga bagi siapapun, termasuk anggota keluarga. Jangan tunggu bencana datang baru terasa bingung bagaimana menghadapinya. Blake, nampaknya dilatih secara baik oleh ayahnya, Ray, dalam menghadapi bencana dan berbagai situasi genting lainnya. Jadi, mau tunggu kapan belajar siaga bencana?
Adegan penyelamatan yang dilakukan Ben dan adiknya, Oliie terhadap Blake, puteri Ray (tim penyelamat) juga menarik perhatian. Ia mengambil dongkrak di mobil untuk mengangkat batu besar yang menghimpit mobil untuk bisa mengeluarkan Blake. Pelajaran penting, tetap tenang, fokus dan berpikir cepat mencari cara untuk bisa menyelamatkan.
Hampir semua adegan di film ini seperti mengkonfirmasi ilmu dan pengalaman yang pernah saya pelajari dan dapatkan terkait gempa dan tsunami. Tentang telepon seluler yang tak bisa digunakan sesaat setelah terjadi gempa, karena menara-menara BTS pun roboh dan jaringan rusak. Bergerak ke lokasi yang lebih tinggi saat terjadi tsunami, siapkan beberapa peralatan standar yang sewaktu-waktu akan digunakan, dicontohkan dalam hal ini Blake selalu mengantongi senter kecil, yang ternyata berguna saat ia terjebak di dalam air. Siapkan peta atau lokasi penting di kota yang kita tinggali atau singgahi, ini tergambar dari Ollie, yang selalu membawa buku tebal berisi peta dan semua informasi tentang San Fransisco. Ada pula adegan kerusuhan dan penjarahan, mencari kesempatan dalam kesempitan.
Film ini pun cukup menguras emosi penontonnya, atau mungkin cuma saya? Adegan ketika Ray berusaha menyelamatkan putrinya, Blake, yang terjebak di dalam air. Ada bayangan yang mengganggu karena beberapa tahun lalu Ray tak mampu menyelamatkan Mallory, puterinya yang lain, yang tenggelam saat arung jeram. Tindakan Resusitasi Jantung dan Paru (RJP) juga diperlihatkan Ray kepada Blake, penting bagi siapapun untuk mempelajari teknik ini.
Cinta, film ini dengan jelas menunjukkan bahwa cinta sejati diuji saat genting, saat sulit, saat kita dihadapkan pada pilihan, lari mencari selamat sendiri atau membersamai orang yang kita cintai mencari kehidupan.
Kalaupun ada yang harus saya kritik dari film ini adalah adegan romantis Ben dan Blake, dan juga Ray yang terlalu fokus menyelamatkan isteri dan puterinya. Walaupun jika berada dalam posisinya, tentu bisa dimaklumi, saya pun akan lebih dulu menyelamatkan keluarga saya. Ini naluri manusia.
Selain itu, film ini kurang menggambarkan aksi penyelamatan dari para rescuer. Bisa jadi, mungkin karena para rescuer itu ya seperti Ray, yang juga sibuk menyelamatkan anggota keluarganya, atau bahkan para rescuer pun sudah mati. Pesan pentingnya, ayo kita terus mengedukasi masyarakat untuk paham bencana, sebab pada saat terjadi bencana, kita lah yang paling bertanggungjawab terhadap keselamatan diri sendiri, tak bisa sepenuhnya mengandalkan tim penyelamat.
Kalimat paling menarik dari film ini adalah ketika Ray mengintruksikan semua orang untuk berpindah ke sisi stadion, satu bangunan yang cukup kokoh untuk berlindung. Seorang warga bertanya, “bagaimana kau tahu kita akan selamat?” Ray menjawab, “Mendekatlah pada sesuatu yang kokoh, berlindunglah padanya…”
Mungkin boleh dengan bebas saya memahami “Mendekatlah pada sesuatu yang kokoh (Tuhan), berlindunglah pada-Nya…”
Oya, pandai-pandailah berenang dan latihan pernafasan… (silakan ditambahkan…) – Gaw, 5 Juni 2015.



