Ja’far adalah panglima kedua dari tiga panglima yang ditunjuk Rasulullah saat 3000 pasukan muslimin harus menghadapi 200ribu pasukan gabungan Romawi di Perang Mu’tah. “Jika Zaid gugur, Ja’far yang gantikan posisinya. Jika Ja’far gugur, komando pasukan dipegang oleh Abdullah ibn Rawahah” kata Rasul sebelum pasukan berangkat.
Pertempuran sangat sengit dan tak berimbang. Zaid gugur, Ja’far memacu kudanya ke tengah pertempuran untuk mengambil panji pasukan dari tangan Zaid. Ja’far memimpin pasukan dengan gagah berani, ia memegang panji dengan tangan kanannya, lalu musuh menebas putus tangannya. Panji ia pindahkan ke tangan kirinya, sebentar kemudian terputus pula tangan kirinya oleh tebasan pedang musuh. Tak putus asa, panji-panji itu ia gigit sekuat-kuatnya sampai akhirnya ia gugur.
Terdapat 99 luka sayatan dan tusukan pedang di tubuh pemuda berusia 33 tahun itu. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua tangan Ja’far dengan dua buah sayap yang ia pakai untuk terbang di surga kemanapun ia suka”.
Sobat, kisah tentang Ja’far ini memberi pelajaran berharga tentang komitmen dan keteguhan memegang amanah. Ja’far mengajarkan satu kesungguhan dan pantang menyerah dalam mengemban amanah. Semoga kita bisa menjejaki teladan darinya. #LifeSharing - Bayu Gawtama


