Buanglah Upil Pada Tempatnya

foto: rochman4all.blogspot.com

foto: rochman4all.blogspot.com

Ada macam-macam cara orang ngupil, dikorek langsung pakai jari, ada yang disemprot biar keluar sejauh-jauhnya, ada juga yang pakai cotton buds, atau ada yang dikorekin sama orang lain. Yang terakhir ini biasanya anak kecil, balita atau orang yang tidak punya kemampuan untuk ngorek sendiri.

Ada macam-macam orang pula menyikapi upil yang berhasil dikorek. Ada yang langsung dibuang, ada yang diteliti dulu, diamati konturnya, ada yang dipilin-pilin sampai bulat, ada pula yang dimakan. Eh beneran, ada loh…

Ada macam-macam target atau sasaran pembuangan upil. Kolong meja mungkin menempati survei paling banyak, sampai-sampai ada tebakan, “apa beda apel dan upil?” Ada yang asal buang sembarang tempat. Tembok juga sering jadi sasaran pembuangan upil. Mungkin perlu lain kali ada peringatan “Dilarang nempelin upil di tembok” karena “Dilarang corat coret tembok” sudah terlalu mainstream. Baju teman juga kerap jadi sasaran yang asik buat si upil bersarang. Kalau belum pernah ada teman yang meperin upil ke baju kamu, berarti kamu belum jadi teman baiknya. Kalau yang ngupil lumayan jahil bin usil, biasanya dia rela bagi-bagi upil ke teman-temannya. Kata orang, belum sahabat namanya kalau belum pernah dijejelin upil sahabatnya, ah segitunya?

Nggak penting bahasan diatas itu semua. Karena yang penting adalah, ya ngupilnya itu sendiri. Ngupil itu penting, buang kotoran yang menumpuk di dalam rongga hidung. Bisa dibayangkan jika upil-upil dibiarkan berdesakan di lobang yang sempit itu, tak sekadar merusak penampilan, tetapi juga membuat pernapasan terganggu. Sesak napas ternyata bisa disebabkan oleh makhluk sekecil itu.

Maka jangan sepelekan si upil yang nampak sepele itu. Daripada bikin penampilan nggak keren, bikin dada terasa sesak, bikin kesehatan terganggu, berpengaruh pada kualitas hidup bernegara dan berbangsa se tanah air, maka buanglah upil pada tempatnya.

Upil itu bau, kotor, jelek, tak berguna, bikin sesak, bikin rusak pemandangan, jadi nggak usah dipelihara, jangan dibiarkan berlama-lama jadi bagian diri kita. Biarkan udara sehat bebas keluar masuk tanpa hambatan.

Sama halnya dengan kehidupan kita, banyak yang nggak penting, nggak memberi manfaat sedikitpun, namun masih menempel di kehidupan kita, buang saja, apapun itu. Karena keberadaannya justru merugikan kita, membebani kita. Ibarat Upil, memang nggak bisa diapa-apain lagi selain dibuang, ya dibuang saja. Kecuali ada teknologi baru yang bisa membuat upil jadi semacam camilan yang asin-asin nikmat gituh…

Buang upil, nafas lega, hidup lebih berkualitas. Dan, jangan pula kau tengok-tengok lagi upil yang sudah dibuang, apalagi diingat-ingat. Mubazir hidup kau. Ikhlaskan saja!

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *