Kemarin, Minggu (30/8) diberi kesempatan sharing tentang kerelawanan di forum #SundaySharing BlogDetik di kantor Detik.com, seperti yang saya duga bahwa sebagian peserta yang hadir masih punya pandangan yang sama tentang relawan.
Ketika saya tanya, “Siapa yang belum pernah jadi relawan selama hidupnya?” beberapa orang tanpa ragu mengangkat tangannya. Sebelumnya saya berkata, “saya yakin di ruangan ini tidak satupun orang yang tidak pernah jadi relawan…”
Jawabannya sudah bisa diduga, peserta yang mengangkat tangan mengaku belum pernah jadi relawan berpikir bahwa menjadi relawan itu adalah terjun ke lokasi bencana, melakukan pertolongan kepada korban bencana, baik sebagai rescuer, tim medis atau bentuk pertolongan lainnya.
Boleh jadi, si peserta ini mewakili sekian banyak masyarakat kita yang sama-sama berpikir bahwa “relawan” adalah seseorang yang melakukan pertolongan di lokasi bencana. Tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena mungkin para pegiat kemanusiaan belum maksimal melakukan edukasi dan sosialisasi tentang kerelawanan dan peran-perannya di masyarakat.
Lalu saya tanya, “Pernahkah Anda menolong orang lain? Seperti membantu membawakan belanjaan orang yang kelebihan beban? mendorong mobil orang yang mogok? membantu tuna netra atau lansia menyeberang jalan? membacakan cerita kepada anak-anak di sekitar rumah? memungut sampah di jalanan? atau sekadar meneruskan informasi valid di media sosial tentang kebutuhan donor darah untuk pasien di sebuah rumah sakit.
Jawabannya, “Pernah” Ya, berarti Anda sudah pernah jadi relawan.
Menjadi relawan, bisa dilakukan dengan banyak cara, dengan waktu dan situasi serta kondisi yang disesuaikan dengan kesanggupan diri sendiri. Tidak harus berada di lokasi bencana, karena di sekitar kita ternyata banyak kebaikan yang bisa kita lakukan. Seperti yang dilakukan Mas Ain Ongisnade, dengan gerakan BELING-nya (Bioskop Indonesia Keliling), dimulai dengan kecintaannya pada film Indonesia, kemudian ia dan timnya keliling keluar masuk kampung-kampung dengan membawa peralatan sendiri, gelar bioskop mini untuk anak-anak di berbagai kampung. Ada kebahagiaan yang dirasakan Ain melihat kebahagiaan anak-anak menonton film, disana ada kesempatan untuk mengedukasi, baik dengan mereview film itu sendiri atau dengan dongeng dan permainan.
Mulailah menjadi bagian dari gerakan kebaikan, dengan cara yang bisa kita lakukan. Tidak perlu menjadi seperti orang lain, Anda tidak akan menyangka bahwa hal kecil yang Anda lakukan untuk orang lain, adalah hal terbesar bagi mereka. Menjadi relawan, adalah membagi waktu, tenaga, pikiran, keterampilan dan bahkan harta kita untuk orang lain yang membutuhkan. Dimulai dari apa yang bisa kita lakukan. Sekadar tambahan dari pengalaman Ain, selain yang kita bisa, lakukan juga sesuatu yang kita suka. Boleh jadi, melakukan gerakan kebaikan yang kita suka, adalah salah satu kunci umur panjang dari aksi kerelawanan itu sendiri, karena kita melakukannya dengan hati senang. Bahasa kerennya, sesuai passion.
Baiklah, setidaknya peserta di forum kemarin sudah “sadar” bahwa ternyata kita semua sudah pernah, bahkan sering melakukan aksi kerelawanan di sekitar. Mereka nampak tersenyum, yang coba saya artikan maknanya, itu senyum kebahagiaan bahwa dirinya pernah dan akan selalu menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain.
Inilah salah satu tugas penting Sekolah Relawan, serta semua relawan dimanapun, untuk terus mengedukasi seluruh elemen masyarakat kita tentang kerelawanan dan peran-peran relawan bagi masyarakat, juga bangsa. Dimulai dari diri sendiri. Semua bisa jadi relawan!



