Ada tiga kejadian dalam satu perjalanan di Commuter Line pada saat kembali dari mengisi pelatihan pemadaman kebakaran bagi pelajar-pelajar di Ciledug, Akhir pekan kemarin. Pertama, seorang lelaki berusia 40an tak bergeming, sedikit melotot kepada saya saat saya memintanya untuk memberi tempat duduk kepada seorang ibu yang membawa balita. Saya agak mendekat lagi untuk sekali lagi memintanya, namun tetap ia tak peduli, semakin mematung di kursinya.
Kedua, setelah berhenti di stasiun Universitas Pancasila, bocah lelaki berusia 2-3 tahun nyelonong ke arah pintu tanpa pengawalan orang tuanya, hanya sedetik setelah pintu tertutup. Sebagian penumpang berteriak, Ayahnya langsung menggendongnya tapi sambil beberapa kali memukul, mencubit anaknya sambil menyebut “anak nakal”. Yang salah siapa? Anaknya atau Ayahnya? Jelas mengusik saya untuk berkomentar, “Jangan sakiti anaknya pak, dia nggak salah”.
Episode ketiga, awalnya saya bahagia melihat seorang nenek yang sangat sayang kepada cucunya. Ia membantu cucunya yang diusili oleh kakak-kakaknya dengan mengikat sekantong sampah di celananya. Indah sampai disitu. Kantong sampah masih dipegang si nenek, begitu kereta berhenti di stasiun Depok, si nenek menuntun cucunya sambil berkata, “Yuk kita buang saja sampahnya…” sambil melempar keluar pintu.
Saya berada di dekatnya, sempat bergegas sambil sedikit teriak, “Jangan bu, jangan dibuang keluar sampahnya…” tapi terlambat, sampah sudah dilempar. Saya masih sempat bilang, “Jangan ajari anak kecil buang sampah sembarangan bu…” keluarga yang lainnya menatap saya. Entah apa yang ada di benak mereka.
Tak lama setelah turun di Stasiun Bogor, saya sejenak merenung, “Gue ini kok usil ya? Nyampurin urusan orang lain saja…” Sementara di tiga kejadian itu tidak seorang lain pun yang peduli, selain Dony, sahabat saya di Sekolah Relawan, tidak ada yang ikut bergerak menegur lelaki yang tak mau beri kursi buat ibu balita. Saya sendirian menegur Ayah yang memukuli anaknya, sedangkan banyak orang tua lain di gerbong itu. Begitu juga saat menegur nenek yang buang sampah.
Apakah memang saya yang terlalu “usil” mencampuri urusan-urusan orang lain? Atau memang orang lain yang tak peduli? Atau sebenarnya yang lain peduli tetapi merasa sudah terwakili. Oke, kadang saya merasa ingin diam saja melihat hal-hal seperti ini di banyak tempat. Tetapi tidak banyak ternyata yang bergerak untuk “usil”, ada beberapa saya dapati yang punya keprihatinan yang sama, dan saya bersyukur.
Baik, mungkin saya ganti kata “usil” jadi “peduli”?, Ah kayaknya terlalu sombong buat saya. Saya bisa saja menganggap itu bentuk kepedulian, tetapi bagi yang kebetulan terkena teguran menganggapnya keusilan.
Saya teringat pesan seorang sahabat, menjadi relawan itu harus siap kesepian. Sepi dari pengikut, sepi tepuk tangan dan pujian, sepi penghargaan. Meskipun di dunia kerelawanan dan kemanusiaan kita selalu ramai, namun itu seperti buih di lautan. Seberapa banyak orang yang mau peduli pada kebersihan dibanding orang-orang yang justru seenaknya buang sampah sembarangan? Seberapa banyak sahabat-sahabat relawan yang rela berpeluh dan panas mendidik anak-anak di kolong jembatan, di kampung-kampung miskin yang jauh dari kota, seberapa banyak orang yang mau pertaruhkan jiwanya di lokasi bencana, ketimbang mereka yang tetap jadi penonton di layar kaca?
Sementara itu, berapa banyak orang yang kerap bertanya, “Apa sih yang Anda cari dengan jadi relawan?” “Kenapa harus pentingkan orang lain?” “Peduli banget sama anak-anak orang, mereka kan masih ada orang tuanya, suruh bapaknya tanggungjawab…” “Macam orang sudah kebanyakan duit saja, jadi relawan, dibayar juga enggak…” atau “Elo dapat apa sih jadi relawan? Bisa kaya lo?”, “Situ Oke? Sok peduli amat…” “Kalian tuh aneh ya, atau gila, mau-mauan ngelakui kerjaan nggak dibayar…”
Kembali ke soal tiga kejadian di Commuter Line, kebetulan saja ketiganya itu tak lepas dari persoalan kemanusiaan. Soal sampah, kekerasan terhadap anak dan satu lagi, ah entah manusia macam apa saya harus melabelinya, beda persoalan kalau orang itu lumpuh atau cacat.
Sering saya sampaikan kepada sahabat-sahabat relawan, baik di Sekolah Relawan maupun di forum lainnya. Sepanjang itu masih persoalan kemanusiaan, maka akan selamanya jadi urusan kita. Tak peduli dianggap usil, sok peduli atau lainnya.
Biarlah kita dianggap kesepian di jalan yang “aneh”, di lorong yang “gila” ini, sebab mereka belum mengerti betapa semaraknya dunia kerelawanan, begitu membahagiakan. Kesemarakkan dan kebahagiaan yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang sudah masuk ke dunia ini. Yang apabila sudah nyemplung, tak pernah ingin keluar lagi.
Teruslah berkarya hai orang-orang “aneh” - Gaw


