Tipe Manusia, Kursi Commuter Line dan Kekuasaan

keretaBerbekal kurang lebih lima belas tahun menggunakan jasa angkutan kereta api, sejak masih menggunakan karcis, banyak copet dalam gerbong dan ratusan orang berjubal di atap meski di dalam gerbong masih kosong, hingga saat ini ketika hampir tak ada ruang beraksi bagi copet, menggunakan sistem kartu untuk akses masuk, dan kita pun menyebutnya tak lagi kereta, tetapi Commuter Line.

Selalu ada hal menarik yang menjadi perhatian, pengamatan dan bahkan penelitian. Saya pun tak mau ketinggalan melakukan pengamatan terhadap dunia per-CommuterLine-an ini yang mungkin tak ilmiah, tak bisa dipertanggungjawabkan apalagi dijadikan bahan rujukan sebuah keputusan, bahan referensi sebuah tesis mahasiswa yang malas cari data risetnya.

Ada yang menarik untuk ditarik, kok kedengarannya aneh ya? Dari perilaku para pengguna Commuter Line –selanjutnya disebut CL- kaitannya dengan tempat duduk alias kursi, kemudian dikait-kaitkan dengan kekuasaan. Begini, soal tempat duduk di CL ini ternyata ada beberapa tipe manusia yang bisa digolongkan.

Pertama, Fighter. Yakni pengguna yang sigap masuk ke gerbong untuk berebut tempat duduk meski harus menerobos penumpang yang belum keluar, sedikit sikut kanan kiri. Biasanya yang dicari posisi strategis, di pojok dekat tiang. Sebagian orang tipe ini agak berat untuk memberikan tempat duduknya kepada yang lebih memerlukan, mengingat perjuangan berdarah-darahnya merebut kursi kekuasaannya itu.

Kedua, Mystery Man. Pengguna yang biasanya pakai hoodie atau topi, menutup wajahnya dengan masker, menyumpal telinga dengan earphone lalu tidur atau pura-pura tidur, kadang tak peduli dengan orang-orang berdesakan di depannya termasuk yang hamil, bawa balita atau lansia.

Ketiga, Sleeper. Mungkin dia lelah, jadi ketika dapat tempat duduk langsung tidur tak bangun-bangun lagi sampai menjelang stasiun tujuannya. Sebagian di tipe ini yang bersedia dibangunkan ketika ada lansia yang harus diutamakan, sebagian lainnya tetap terlelap. Bisa juga karena penumpang lainnya tak tega, tak mau atau tak berani membangunkannya.

Keempat, Opportunist. Biasanya agak terlambat masuk gerbong tetapi selalu mencari celah duduk diantara orang-orang yang sudah duduk. Tak boleh lihat sedikit celah, maka ia akan meminta orang-orang yang duduk untuk menggeser posisinya, tak peduli ukurannya yang agak berlebih, maka jadilah ia duduk nempel di tepi kursi. Yang menarik, kadang yang tipe ini malah lebih menguasai tempat duduk dibanding yang memberi celah, apalagi kalau yang digeser itu anak muda sedikit kurus.

Masuk dalam golongan tipe ini adalah orang-orang yang sebenarnya belum terlalu tua tetapi ingin diberi tempat duduk. Biasanya ia berdiri di depan cowok-cowok muda, sambil mesem-mesem atau pasang tampang lelah, merasa dirinya lebih berhak duduk daripada cowok gagah di depannya.

Kelima, King Man. Kalau duduk kaki ngangkang lebar seperti raja. Padahal masih bisa kasih orang lain duduk jika digeser-geser sedikit. Jika kereta kosong, hilanglah sopan santun, sebelah kaki naik ke kursi seperti setengah bersila.

Masuk dalam golongan ini juga mereka yang membawa anak-anaknya, membiarkan anaknya tidur-tiduran –bukan tidur beneran- dan posisi orang tuanya duduk menyamping. Alhasil tempat duduk yang harusnya bisa diduduki bertiga atau berempat, dikuasai berdua saja.

Keenam, Forgetter. Entah nggak bisa baca atau bagaimana, orang-orang ini mengambil tempat duduk yang jelas-jelas tempat khusus lansia, ibu hamil dan bawa balita atau penyandang cacat. Anehnya ketika yang lebih berhak datang, ia masih cuek tak segera berdiri, menunggu ditegur. Sebagian lain sekadar memanfaatkan tempat kosong, dan selalu sigap memberikannya kepada yang berhak.

Remaja atau anak muda yang gagah-gagah tapi tak segera bangun memberi tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan, masuk dalam kategori ini. Ia lupa bahwa dirinya masih muda, lupa pula bahwa suatu hari ia akan beranjak tua, akan punya anak, akan hamil juga.

Golongan pelupa ini, termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang sudah diberi tempat duduk tetapi lupa berterima kasih, karena merasa berhak mendapatkannya. Begitu duduk, lalu asik dengan gadgetnya. Masuk pula dalam golongan ini, mereka yang membawa barang, tas, atau gembolan cukup besar lalu memberi duduk barang bawaannya, padahal barangnya tak beli tiket.

Ketujuh, Giver. Ini keren, orang-orang yang meski mendapat duduk tetapi selalu bersedia memberikannya kepada yang lebih berhak. Tak hanya lansia di depannya, bahkan ia kerap memanggil yang posisinya agak jauh karena tak mendapat duduk dari orang di depannya. Tak melulu orang muda, kadang ini dilakukan oleh yang juga tua, tapi ia sadari masih sanggup berdiri. Tak selalu lelaki, kadang pun perempuan, bisa mahasiswi, yang secara sadar memberi kepada yang lebih berhak.

Orang-orang di golongan ini, kadang juga berebut mencari tempat duduk, tetapi selalu diniatkan untuk diberikan kepada yang lebih berhak nantinya.

Tak sekadar memberi duduk, orang-orang ini rajin pula mengingatkan mereka yang lupa, menegur orang-orang yang asik duduk atau membangunkan yang tidur ketika ada yang lebih berhak duduk.

Ada pula tipe pemberi yang lain, yakni yang memberi duduk hanya ketika memang sudah waktunya turun.

Kedelapan, Standing Man. Golongan ini terdiri dari orang-orang yang memang tidak pernah dapat tempat duduk, juga orang yang merasa tidak perlu duduk karena jaraknya dekat, atau mereka yang lebih mengutamakan orang lain duduk. Mungkin juga karena ia senang berdiri, sedang melatih kekuatannya atau sedang ada masalah di bagian tertentu yang memaksanya harus tetap berdiri.

Selain kedelapan tipe diatas, Anda bisa menambahkan tipe atau golongan lain dari beragam tabiat atau karakter pengguna CL. Tak harus dipercaya, tak perlu pula Anda berujar, “bener juga nih…” karena ini hanya pengamatan tak ilmiah, meski berdasar fakta dan pengalaman.

Lalu apa kaitannya dengan kekuasaan? Ya boleh saja tipe-tipe diatas dihubungkan dengan kemungkinan seperti apa gaya orang-orang diatas jika diberi kekuasaan. Sekali lagi, jangan terlalu serius membacanya ya. Terima kasih. (Gaw)

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *