Orang yang pernah ke Jepang biasanya berkomentar, “kapan ya kota kita bisa sebersih Tokyo…” Tak hanya jalanan, bahkan saluran air –selokan- nampak bening tanpa sampah.
Stop, jangan cuma mimpi dan bertanya kapan? Mulai dari sekarang ikut aktif mengedukasi masyarakat kita agar bisa menjaga kebersihan.
Jepang nggak main sulap, sim silabim, kota bersih sendiri. Soal kebersihan bukan hanya tergantung pada teknologi dan fasilitas kebersihan yang tersedia, sebab secanggih apapun fasilitas tanpa kesadaran akan percuma. Jadi, yang jauh lebih penting adalah attitude, kesadaran masyarakat untuk hidup bersih. Teknologi dan fasilitas hanya alat bantu.
Begitu pula di Singapura misalnya. Jangankan membuang sampah, membuang puntung rokok atau meludah sembarangan pun bisa kena denda. Ini tentang peraturan/undang-undang, boleh jadi peraturan di negara ini tentang kebersihan hanya sebagai syarat sebuah kota atau negara yang memang perlu punya undang-undang.
Sama dengan di Jepang, ini tentang kesadaran, yang pada akhirnya undang-undang tentang kebersihan ini, boleh jadi suatu saat akan masuk museum alias usang, masuk kategori undang-undang yang harus dihapus karena tidak diperlukan lagi. Masyarakatnya bisa menjaga kebersihan karena kesadaran, bukan karena ada undang-undang berikut segala ancamannya.
Lalu kita lihat di beberapa kota dan daerah tempat tinggal kita sendiri. Jengkel, kesal lihat sampah di jalan. Itu sampah bakal pindah sendiri ke tempatnya hanya dengan jengkel?
Ada pula yang ngomel-ngomel macam nenek-nenek kehabisan sirih lihat orang orang buang sampah ke jalan, ke sungai. Level marahnya bertingkat lagi sampai ke ubun-ubun kalau lihat mobil mewah keluarin sampah ke jalan. Lalu, selesaikah masalah kita hanya dengan marah-marah?
Ada orangtua siswa yang protes ke kepala sekolah tempat anaknya belajar, lantaran sampah yang menumpuk di tong sampah yang memang kurang jumlahnya, sebagian bahkan sudah rusak. Merasa sudah membayar uang kebersihan tidak lantas kita berpangku tangan diatas sampah berserakan di sekolah. Petugas kebersihan hanya satu dua orang, yang nyampah ratusan siswa, semoga saja tidak berumur pendek itu petugas. Kita bisa ambil bagian, mengedukasi siswa-siswi di sekolah itu, atau bahkan guru-gurunya.
Sementara sebagian orang, tanpa mengeluh, tanpa marah dan protes, turun tangan ke jalan melakukan aksi Gerakan Pungut Sampah (GPS), bergabung jadi relawan #CleanRanger. Tak hanya itu, mereka pun aktif memberikan edukasi langsung kepada masyarakat yang ditemuinya, termasuk yang tertangkap langsung sedang membuang sampah sembarangan.
Pasukan ini juga mendatangi sekolah-sekolah untuk mengajari anak-anak bagaimana menjaga kebersihan, memilah sampah dan mencintai lingkungan. Para relawan ini pun menggalakkan #Gerakan1000Tumbler sebagai upaya mengurangi sampah kemasan minum, dengan mengajak setiap orang membiasakan membawa tumbler sendiri untuk segala aktifitasnya.
Inilah para relawan CLEANACTION, sudah ada di Bandung, Jakarta dan berbagai kota lainnya di Indonesia. Tujuan utama dari gerakan ini adalah perubahan perilaku individu dan masyarakat. Semakin banyak individu yang memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga kebersihan, semakin dekat mimpi bersama untuk tempat beraktifitas yang lebih bersih dan lebih sehat.
Pada masanya nanti, orang akan malu membuang sampah sembarangan di lingkungan yang masyarakat aktif menjaga kebersihan, di tempat yang orang-orangnya peduli terhadap masalah sampah, di lokasi yang setiap pelanggaran maka ada jutaan pasang mata yang siap “menghukumnya”. Saat ini belum, rasa malu itu masih hilang entah kemana. Mari kita kembalikan bersama…
Oke, stop mengeluh, mulai beraksi. Banyak hal dan cara yang bisa kita lakukan untuk kota kita tercinta.
Salam #CleanRanger
@JKTcleanaction
Bayu Gawtama
@bayugawtama



