Yang Nggak Siap Silakan Minggir!

tentaraDari seribu taruna Akademi Militer, mungkin tidak seratus persen yang lulus menjadi tentara di semua angkatan. Boleh jadi, pada acara pelantikan hanya tersisa delapan ratus orang. Kemudian, dari jumlah tersisa itu semuanya mendapat kesempatan mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk terpilih menjadi perwira. Lagi-lagi, tidak semua berhasil melewati kesempatan tersebut. Sisanya mungkin hanya empat ratus orang.

Kesempatan datang lagi bagi empat ratus orang itu, baik perupa penugasan maupun pendidikan. Tentu saja dengan ujian dan cobaan yang sama. Sama-sama dipentung, sama-sama didamprat, sama-sama ditabok pelatih atau pimpinannya, sama-sama ditendang, diinjak, tapi sama-sama juga mendapat perhatian dan kesempatan untuk maju dan berhasil. Meski pada akhirnya, seleksi alam berlaku, mungkin hanya tersisa seratus orang, mungkin kurang.

Sisa yang sedikit ini, semua mendapatkan kesempatan yang sama, baik untuk masuk dalam kelompok pasukan elit bahkan kesempatan untuk menjadi pemimpin. Tentu saja, di level yang lebih tinggi, ujian dan cobaan makin berat. Hanya yang benar-benar siaplah yang kelak menjadi pemimpin.

Kenapa pemimpin yang sedikit dari jumlah pasukan?
Karena hanya sedikit pula orang yang benar-benar siap dan menyiapkan diri menjadi pemimpin.

Katanya, setiap manusia terlahir untuk menjadi pemimpin?
Ya benar, namun pada prosesnya jauh lebih banyak yang menyerah dan memilih untuk menjadi pengikut, jika tak ingin dikatakan sebagai pecundang.

Kesempatan selalu ada, baik di perusahaan, organisasi, lembaga, instansi atau kelompok lainnya. Hanya mereka yang benar-benar siap dan menyiapkan dirilah yang akan terus melaju dan kelak menjadi pemimpin.

Bahkan, oleh Allah semua manusia diberi kesempatan dan waktu yang sama. Tidak ada orang yang diberi waktu dua puluh lima jam sehari, tetapi selalu ada yang berhasil dan yang gagal memanfaatkan waktu dan kesempatannya.

Yang lemah, yang lembek, yang cengeng gampang ngambek, yang suka bawa perasaan, yang loyo dan yang pengecut, jangan pernah mimpi menjadi pemimpin. Yang nggak siap, silakan minggir! Tapi jangan ngiri kalau lihat teman seangkatannya jadi jenderal. Mungkin nanti ke cucu bisa cerita, “Jenderal itu dulu teman seangkatan kakek…” Dan jangan gagap kalau cucunya bertanya, “Kenapa bukan kakek yang jadi jenderal?”

Sementara abaikan dulu soal kecurangan, katrolan, katebelece atau bentuk penyimpangan lainnya. Tenang, akan nampak bedanya emas dan loyang. Pemimpin sejati terlahir dari perjuangan yang keras, tantangan yang besar dan nyali yang hebat. Pelaut hebat terlahir dari ombak yang besar, badai yang dahsyat di samudera yang luas. @bayugawtama

Terimakasih bila Anda berkenan membagikan tulisan ini kepada orang lain
  • Tweet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *